Thu. Apr 2nd, 2020

2DUA.COM

Berita Unik Aneh Mistis

Tradisi Ramadhan Di Indonesia

15 min read
bulan ramadhan

bulan ramadhan

Bagikan Artikel :

Ramadhan adalah bulan yg dinantikan umat muslim di dunia. Mengapa demikian ? karena bulan ini penuh berkah, bulan yang utama, bulan pengampunan dosa, dan bulan yang di dalam nya banyak terjadi peristiwa penting pada masa Rasullullah Saw, Menjelang Ramadan, berbagai  tradisi dilakukan masyarakat di sejumlah daerah dan negara. Suasana kemeriahan bulan suci Ramadan sudah mulai terasa di berbagai  tempat beberapa hari sebelumnya.  Keindahan nya terlihat dari berbagai tradisi penuh makna kebajikan lokal. Berikut merupakan daerah di nusantara yg merayakan datangnya bulan ramadhan dengan berbagai kegiatan menyambut bulan ramadhan :

ziarah
ziarah

1 . Ziarah
Berbagai tradisi dilakukan oleh umat Islam di Indonesia menyambut bulan Ramadan. Salah satunya berziarah ke makam keluarga atau nyekar (Jawa). Ziarah adalah berkunjung bersama keluarga ke makam anggota keluarga yang sudah terlebih dahulu meninggal, terutama orang tua. Untuk mendoakan sekaligus merawat dan membersihkan makam tersebut. Tradisi ini tidak hanya dilakukan ke makam yang letaknya dekat, tetapi tidak sedikit yang kembali ke kampung untuk melakukan ziarah ini. Selain makam keluarga, sebagian umat muslim ada pula yang berziarah ke makam para Wali dan pemuka agama Islam lain nya. Kegiatan ini bertujuan memberi ketenangan kepada diri dan mengingatkan kembali asal usul mereka.

Nyadran
Nyadran

2. Nyadran/Sadranan
Tradisi ziarah ke makam disebut juga nyadran atau sadranan. Setelah berziarah, dilanjutkan dengan berkunjung  ke rumah saudara saudara yang masih hidup. Tradisi ini bermakna sebelum memasuki puasa, kita saling meminta maaf dan memperbaharui kembali hubungan terhadap sesama. Sunan Kalijaga merancang sadranan sebagai sarana untuk umat supaya sebelum menjalankan puasa Ramadan, hati mereka dapat bersih dari kesalahan dan dijauhkan dari sifat-sifat buruk. Tujuannya agar saat memasuki bulan Ramadan kondisi batin siap menjalani ibadah. Beberapa daerah, seperti di Temanggung, Sragen, Klaten, pada saat ke makam, masyarakat membawa makanan. Setelah berziarah, mereka makan makanan yang dibawa bersama sama. Ada yang menggunakan tanah lapang, pendopo, atau di jalan sebagai lokasi makan bersamanya. lni menggambarkan kebersamaan dan kekeluargaan antar warga. Selain itu, makanan yang disajikan juga merupakan makanan lokal khas daerah, misalnya nasi gurih dan nasi megono. Hal ini menunjukkan kesederhanaan dan masih menjunjung tinggi jati diri daerahnya.

bebersinan
bebersinan

3. Bebersinan
Tradisi bebersinan dilakukan oleh umat muslim di Lombok. Bebersinan dilakukan dengan tujuan membersihkan diri.Tradisi ini dimulai dengan melakukan ziarah ke makam. Hal ini biasanya dilakukan sehari sebelum ibadah puasa dimulai, supaya saat memasuki Ramadan dalam kondisi hati bersih suci dari dosa dan kesalahan. Selain melakukan ziarah ke makam berikut membersihkannya, masyarakat juga mengadakan acara silaturahmi dengan keluarga maupun tetangga. Sesudahnya, dilakukan acara berzikir bersama atau Doa di masjid.

arak tumpeng
arak tumpeng

4. Mengarak Tumpeng
Menjelang Ramadan, warga Klaten melakukan tradisi dengan mengarak tumpeng lengkap beserta lauk pauknya. arak arakan tersebut dimulai dari Pendopo Tembayat sampai Komplek Makam Sunan Pandan Arang. Komplek makam tersebut berada di atas Bukit Jabalkat, Klaten. Untuk mencapai lokasi kegiatan, masyarakat harus mendaki sekitar 250 anak tangga. Sesampainya di lokasi kegiatan, puluhan tumpeng beserta lauk pauk serta hasil bumi diletakkan di Pendopo Kompleks Makam Sunan Pandan Arang. Puluhan tumpeng yang diarak tersebut akan dinikmati bersama setelah warga selesai melakukan rangkaian acara. Warga percaya dengan mengikuti tradisi ini dan memakan hidangan yang telah didoakan bersama sama dapat mendatangkan berkah dalam kehidupan nya hingga Ramadan jg berikutnya.

sedekah makanan
sedekah makanan

5. Sedekah Makanan
Umat muslim di Ploso Kuning, Sleman, Yogyakarta, menggelar sedekah makanan yang dibagi bagikan kepada warga kampung. Acara ini didahului dengan doa bersama setelah salat zuhur. Setelah itu, warga lain mengambil dan membawa makanan terbaik yang akan disedekahkan kepada warga lain. Jumlah makanan yang dibawa sesuai dengan jumlah keluarga mereka. Pada saat acara ini, masjid selain menjadi tempat ibadah juga dimanfaatkan sebagai tempat berinteraksi sesama warga.

padusan
padusan

6. Padusan
Beberapa daerah di Pulau Jawa mempunyai tradisi padusan menjelang puasa. Padusan merupakan simbolisasi membersihkan diri dari sifat-sifat yang buruk sebelum melakukan suatu kegiatan atau tahapan kehidupan. Misalnya pada saat memasuki bulan Ramadan. Dengan demikian, puasa saat menjalankan puasa, seseorang sudah siap lahir dan batin. Saat pelaksanaan padusan, masyarakat berduyun duyun ke tempat pemandian, pantai, pancuran, dan lain sebagainya. Misalnya di pemandian Clereng Kulon Progo, Pantai Glagah, atau tempat umum lainnya.

Balimau
Balimau

7. Balimau
Mirip padusan di Jawa, di Sumatra Barat juga digelar tradisi satu hari menjelang bulan suci Ramadan yang disebut dengan hari balimau. Hari balimau artinya hari membersihkan diri, mandi untuk menyucikan diri sebelum masuk bulan suci Ramadan. Balimau sebenarnya bukanlah adat Minangkabau. Namun, ini merupakan tradisi yang telah berlaku secara turun temurun semenjak zaman Belanda. Tradisi ini merupakan sebuah ritual pada hari terakhir bulan Sya’ban, masyarakat melakukan mandi dan keramas dengan dedaunan atau bunga rampai yang biasa disebvut kasai. Oleh karenanya, hari balimau juga disebut hari bakasai.

Dentuman Meriam
Dentuman Meriam

8. Dentuman Meriam
Di Pontianak, dentuman meriam yang saling bersahutan sepanjang malam merupakan pertanda untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Tradisi tersebut erat kaitannya dengan sejarah kota Pontianak yang terletak di pertemuan Sungai Kapuas Besar, Kapuas Kecil, dan Sungai Landak. Pada abad ke 17, Syarif Abdurrahman Al Qadri bersama rombongannya sampai di Batulayang, setelah melakukan perjalanan dari Mempawah guna mencari daerah yang tepat untuk mendirikan kesultanan. Di tempat ini, rombongan mendapat
gangguan dari setan yang menyerupai wanita menyeramkan. la lantas memerintahkan rombongan nya menembakkan meriam untuk mengusir makhluk halus tersebut, sekaligus sebagai pertanda, tempat jatuhnya peluru meriam tersebut adalah tempat yang tepat untuk membangun kesultanan. Peristiwa ini kemudian menjelma menjadi tradisi yang dilaksanakan untuk menyambut bulan Ramadan.

Copyright Sadewa | | by 2DUA.COM.