Wed. Apr 8th, 2020

2DUA.COM

Berita Unik Aneh Mistis

Berlayar Menuju Nirwana

9 min read
berlayar menuju nirwana

berlayar menuju nirwana

Bagikan Artikel :

Bulan September 2010. Seperti biasa, Amrul bersiap siap untuk menambang pasir di sungai. Sartika istri tercintanya membantu menyiapkan keperluan sang suami. Sartika terkadang ikut membantu Amrul menambang pasir dan hari ini, entah mengapa dorongan untuk menemani suaminya begitu besar. Ketika Sartika mengungkapkan keinginannya, Amrul juga tidak melarang. Malam ini, Amrul juga ingin ditemani oleh istrinya. Sekitar jam 9 malam, semua persiapan sudah selesai. Suami istri yang masih muda ini pun segera bertolak. Sartika pun mohon diri kepada Sunnah, ibunya. Tak seperti biasanya, kali ini Sartika mengucapkan permohonan maaf kepada sang ibu.

berlayar menuju nirwana3
berlayar menuju nirwana3

Sempat terlintas pikiran aneh pada diri Sunnah, namun hal itu segera ditepisnya. Sunnah mencoba mengingatkan dirinya sendiri bahwa inilah bukti bakti anak kepada sang ibu, tak ada hal-hal Iain. Meski demikian, naluri keibuan nya tetap was was. Dilepasnya Sartika pergi dengan hati galau. Amrul dan Sartika pergi menuju Ogan Ilir. Di sanalah setiap malam hingga subuh, mereka menambang pasir untuk mencukupi biaya sehari hari. Udara dingin dan angin malam sudah biasa mereka hadapi. Setiba di tongkat penyedot pasir mereka, Amrul segera menyalakan mesin diesel yang menempel pada perahu getek. Sambil menunggu, mereka pun tidur di dalam kapal, Kebetulan di kapal itu ada sebuah ruangan tertutup dekat dengan mesin diesel. Tanpa membuka jendela sebab khawatir masuk angin, Amrul dan Sartika pergi tidur. Sartikalah yang pertama kali merasakannya. Dadanya terasa sesak. Ia agak sulit bernapas. Ia juga sempat mengeluhkan hal ini kepada Amrul.

berlayar menuju nirwana2
berlayar menuju nirwana2

Namun, Amrul berkata mungkin itu karena kelelahan dan karena udara malam, Sambil tersenyum, Amrul meminta istrinya untuk kembali tidur. Akan tetapi, mereka tidak bisa tidur dengan nyenyak. Mereka gelisah. Rasanya seakan akan ada tangan besar tak terlihat yang mencekik leher mereka. Di tengah penderitaan yang mereka alami, satu satunya yang mereka dengar hanya deru mesin diesel yang memecah kesunyian. Akibat kekurangan oksigen mereka pun kehilangan kesadaran. Karena tidak ada siapa pun yang bisa menolong mereka di sana, nasib malang pun menghampiri. Amrul dan Sartika tidak bisa sadar Iagi untuk selama lamanya. 6 September 2010 pukul 4 pagi, Amrul dan Sartika ditemukan dalam keadaan mati lemas dalam perahu tongkang berdinding kayu yang tertutup rapat dengan mesin diesel masih menyala.

Apa Kata Ahli :

Dengan keadaan kapal yang tertutup rapat dan mesin diesel menyala sepanjang malam, Amrul dan Sartika meninggal karena hypercapnia. Hypercapnia adalah suatu kondisi saat terdapat terlalu tinggi penumpukan karbon dioksida dalam darah. Karbon dioksida atau C02 ini berasal dari pembakaran mesin perahu mereka. Gejala awal hypercapnia atau keracunan karbon dioksida adalah napas menjadi cepat dan sesak, kepala pusing, kulit memerah, serta otot-otot terasa berkedut. Jika kondisinya semakin parah (dengan tingkat karbon dioksida dalam darah pada 75 mmHg atau lebih tinggi), seseorang akan menunjukkan disorientasi, kejang, panik dan pingsan, hingga akhirnya menyebabkan kematian. Pada kasus Amrul dan Sartika, korban sudah menghirup CO2 dalam level yang tinggi dalam udara sehingga langsung meninggal karena sesak napas. Sifat C02 itu adalah menggantikan dan mendorong oksigen keluar. Darah akan kekurangan oksigen dan fungsi organ akan terganggu. Dalam keadaan tidur, keduanya tidak menyadari apa penyebabnya sehingga mereka tetap di dalam kapal.


Sumber : Ensiklopedia Dunia
Ditulis ulang 2dua.com dan juga merupakan kisah nyata cerita rakyat dari berbagai negara di dunia

Copyright Sadewa | | by 2DUA.COM.